Ketika bulan masih
membutuhkan cahaya bintang untuk menerangi gelapnya malam, begitu juga dengan
aku yang masih membutuhkanmu untuk menemani setiap langkahku. Namun terkadang
bintang enggan menerangi gelapnya malam seorang diri, begitu pula dengan aku
yang enggan untuk berjalan sendiri setelah hadirnya dirimu.
Tuhan selalu mempunyai alasan
untuk setiap takdirnya. Termasuk pertemuan kita. Memberikan begitu banyak
kebahagiaan yang sempurna dengan menghadirkanmu dihidupku. Entah sejak kapan
perasaan ini mulai muncul, yang aku tau rindu ini semakin menghanyutkan jika
kamu tak berada disampingku.
Kehadiranmu seperti
pelangi seusai hujan deras. Kehadiranmu seperti mentari yang menghangatkan
seusai dinginnya kabut malam. Kehadiranmu seperti suatu nyata dalam mimpiku. Kamu
hadir membawa harapan baru dan juga berjuta kasih sayang yang kau genggam, dan
akhirnya dapat membuatku tenggelam.
Kehadiranmu begitu
istimewa hingga membuatku tak mampu mendevinisikan betapa bahagianya aku. Andai
saja aku mampu menukar hatiku dengan hatimu akan ku tukar sekarang juga agar
aku tak perlu menjelaskan dengan berjuta kata bahwa aku bahagia bersamamu,
kemudian mengatakan sejauh mana rasa ini mulai tumbuh dan mengucapkan beribu
terimakasih atas kehadiranmu.
Aku tau kamu berbeda. Begitu
nyata memberikan kebahagiaan meski ragamu tak selalu bisa kupeluk saat aku
membutuhkan bahumu untuk bersandar. Aku tak sama dengan mereka, yang bisa
bersama pasangannya dan selalu menggenggam tangannya kapanpun yang mereka mau. Tapi
aku tau tak sepenuhnya mereka bahagia, tanpa kita tahu pasti ada pahit getirnya
dalam hubungan. Bagaimana dengan aku? Entahlah, dengan satu pesan kabar darimu
cukup membuatku bahagia, serta rasa rindu ini semakin memperindah hubungan
kita. Lantas, bagaimana dengan pahit getirnya hubungan kita? Ya, rasa itu muncul
ketika aku cemburu terhadap para wanita yang dekat denganmu. Siapapun itu. Sedangkan
aku hanya bisa mengawasimu dari sini.
Namun aku yakin pahit
getirnya hubungan ini akan berubah menjadi senyum kebahagiaan. Kadang aku
berpikir, dengan adanya jarak saja aku sudah sebahagia ini, bagaimana jika kita
bisa selalu bersama, dan kamu genggam tanganku kapanpun yang aku mau. Walau
terkadang kita harus tertatih di tengah badai kerinduan yang begitu sulit untuk
di tahan. Tapi aku akan semakin tertatih jika harus melewati rindu ini
sendirian, tanpa ada lagi sapaan hangat dan juga perhatian kecil darimu yang dapat
membuatku merasa sempurna. Tapi tenang saja, aku sudah mulai bersahabat dengan
jarak dan waktu. Dan mereka tak sejahat yang orang bicarakan. Karna pada waktu
yang tepat jarak itu akan semakin dekat. Ini semua hanyalah permainan takdir
yang kitapun belum tau arahnya, dan hanya waktu yang dapat menjawabnya.
AAS