Hai,
entah berawal sejak kapan dan dimana aku lupa. Yang pasti mengenalmu dan
menemukan kesempurnaan dalam dirimu yang membuatku nyaman. Tak terasa ratusan
hari telah ku lalui dengan indah. Ya rasanya memang seperti sebuah mimpi bisa
mengenalmu.
Ya meski
tak banyak orang tau tentang kita, dan beberapa orang terdekatku yang
mengatakan aku dan kamu semacam “mission impossible” karena banyaknya perbedaan
tapi entah kenapa aku begitu yakin padamu. Aku merasa nyaman bersamamu, bahkan
dalam ketidakjelasan hubungan ini. Hubungan? Aku tak tau apakah ini bisa
disebut sebuah hubungan.
Entahlah,
sampai saat inipun aku belum bisa mengerti hubungan ini. Yang pasti ada rasa
sayang yang tak terucap, rasa cemburu yang tak terungkap, rasa perhatian yang
tak terlihatkan. Yang berbeda tak ada ikatan diantara kita, semua mengalir
begitu saja.
Kadang ingin
rasanya kutanya bagaimana perasaanmu sesungguhnya, tapi aku takut semuanya akan
berubah. Rasa takut kehilangan hubungan yang telah susah payah ku bangun kebersamaan ini.
Meski aku sadar bukan saatnya berdiam dalam hubungan yang abu-abu. Tapi sekali
lagi, aku takut untuk menanyakannya padamu. Aku biarkan sejuta pertanyaan yang
ada dibenakku menguap begitu saja.
Aku
berusaha mengikuti alur yang kamu ciptakan dalam hubungan ini. Kamu sosok yang
kaku, cuek, misterius, bahkan kamu pernah cerita bahwa kamu bukan tipe cowok romantis
ataupun yang bisa memperlihatkan rasa sayang, perhatian, dan rasa-rasa yang
lainnya. Tapi aku selalu berusaha memahamimu, selama kita bisa berkomunikasi
dengan baik, semua itu nyaris tak terasa. Aku paham cara membalas pesan kadang
lama, aku paham posisimu sekarang, aku paham kesibukanmu sekarang. Aku tetap
berusaha mengerti. Karena saat aku akan mulai menyerah, aku selalu ingat saat
kamu berkata “semoga kita bisa saling mengerti”. Ya, itu lah kekuatan ku.
Namun
semuanya berubah ketika entah untuk alasan apa tiba-tiba kamu menghilang,
tiba-tiba kamu mendiamkanku. Tak sekalipun kamu balas pesan ku, bahkan untuk
membaca pesanku pun tidak, padahal aku tau kamu sering berkeliaran di timeline.
Hal seperti ini pernah terjadi sekitar seminggu saja, tapi ini lebih dari
seminggu!
Entah kenapa
kali ini berbeda. Kamu diam begitu lama. Aku berusaha semampuku untuk memendam
kecurigaan padamu. Aku berusaha seolah tak terjadi apapun. Tetap berusaha
menyapamu, menanyakan kabarmu, tak mengurangi perhatianku, masih sama seperti
dulu. Namun kamu tak bergeming sedikitpun.
Aku mengecek
ulang semua kata demi kata yang telah kita bicarakan sebelum ini semua terjadi,
apakah ada kata atau kalimat ku yang salah? Aku rasa tidak, semuanya normal.
Tapi kenapa sikapmu berubah sedrastis ini? Apakah ada perasaan seseorang yang
sedang kamu jaga? Lantas, bagaimana dengan perasaanku? Sampai kapan kamu akan mendiamkanku seperti
ini? Katamu, kamu gamau melihatku menangis didepanmu, tapi sekarang, kamulah
alasan utama keluarnya airmata ini!
Lama aku
berfikir sampai nyaris hilang kesabaranku. Baiklah, jika memang semua usahaku
tak bisa menggerakkan hatimu, berarti aku memang harus menyerah. Semoga ini
yang terbaik untukku, untukmu, dan untuk kita. Tak perlu kamu menjauh
dariku, aku tau caranya untuk melangkah mundur.
Aku
ingin mengucapkan beribu terimakasih.
Bagaimanapun
kita nanti, only God knows. MIS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar