Kamis, 07 Januari 2016

25 Hari Tanpamu

Hai, bagaimana kabarmu? Aku selalu berharap semoga kamu baik-baik saja. Walaupun untuk sekedar mengingatmu saja airmata tak pernah bisa tertahan. Sempat aku berfikir buat apa aku disini, tak ada gunanya. Terdengar bod*h memang.

Sering ku menghibur diri sendiri, bahwa kamu pasti akan menghubungiku, entah kapan. pasti sebentar lagi. Tapi kenyataannya, sampai saat ini hal itu belum pernah terjadi. Entah sekarang ini kamu sibuk apa dan dengan siapa, sampai-sampai kamu bisa menggeserku dengan mudahnya dari hari-harimu, padahal saat itu aku ingat betul kalo kamu pernah bilang, “hari-harimu sepi tanpa aku”. Aku tahu aku bukan siapa-siapa, mungkin kamu hanya menganggapku teman baikmu, teman cerita atau bahkan hanya sekedar pengganggu hari-harimu. Kalo memang begitu untuk apa kau genggam tanganku saat kita bertemu? Untuk apa kau sandarkan kepalaku di bahu mu? Ya, awalnya aku mengira itu mungkin sebuah pertanda baik untuk kita, tapi tahukah kamu kalo itu hanya menambah deretan lukaku karenamu. Maaf, aku terlalu berlebihan membawa perasaan ini.

25 hari tanpamu, aku diam-diam berusaha menyembunyikan airmata ini, tapi tak bisa. Sebenarnya aku sendiri juga tak mengerti apa arti tangisan ini? Kamu pernah bilang kamu akan sibuk dengan jabatan baru mu, aku berusaha mengerti. Kamu juga bilang tak setiap saat bisa membalas pesanku, aku berusaha mengerti. Aku protes pun tak akan berarti besar di mata mu. Dan aku kembali ke kebiasaanku yang hanya bisa menunggu mu, sampai aku lupa rasanya bosan menunggu, karena kamu pernah bilang, “semoga kita bisa saling mengerti”, sekali lagi itu lah kekuatanku.

Untuk sekedar tau kabar mu setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik tak pernah ku lewatkan untuk mengikuti semua sosmedmu. Sekali lagi terlihat bod*h memang. Aku masih tak mengerti hubungan macam apa ini? Apakah masih pantas untuk ku perjuangkan? Andai saja kamu tau, ada perempuan yang selalu mengunggumu dan mengharapkan sedikit waktumu yang selalu menjadi semangat baru untuk hari-hariku.

25 hari selama kamu pergi, aku masih menyimpan rindu yang aku sendiri tak memahaminya. Entah apa alasanmu sehingga dengan mudahnya kamu mengabaikanku, sementara aku untuk sekedar pura-pura tak pedulipun tak bisa. Aku masih tetap berusaha mengirimkanmu pesan dengan harapan kamu juga seperti itu, walau aku tahu untuk sekedar membacanya pun kamu enggan. Tak apa, aku ingin kamu melewati hari-hari sibukmu tanpa memikirkan kesedihanku.

25 hari kamu telah menjadi sosok yang asing yang membuatku takut, takut kalo kamu berpikir akan bernar-benar pergi dan melupakanku. Sampai dengan sengaja aku mencari informasi tentang mu dan mantan kekasihmu. Dan….. aku menemukan sebuah fotomu dengan dia yang begitu luar biasa menurutku, mengingat kamu bukan tipe cowok yang ‘katamu romantis’. Rasanya benar-benar ikut bahagia melihatmu terlihat sebahagia itu. Iri? Siapa lah aku. Untuk sekedar say hello didepan orang yang kita kenalpun masih canggung. Apakah aku tak pantas untuk merasa bangga bisa dekat denganmu? Apakah aku tak pantas kamu perkenalkan dengan lingkup pergaulanmu? Ah, mimpi apa aku ini.

25 hari ini kamu sudah berhasil membolak-balikkan perasaanku, berhasil membuat ribuan pertanyaan dan juga ribuan kecurigaan singgah diotakku. Tapi aku tetap berusaha untuk menunggu kabar baik dari mu, mengubur kecurigaan kepadamu dan juga selalu berdoa yang terbaik untukmu. Missyou. MIS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar