Tak pernah terbayang akan jadi seperti ini pada akhirnya
Semua waktu yang pernah kita lewati bersama nyata hilang dan sirna
Hitam Putih berlalu
Janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara kita
lewati tuk dapatkan semua jawaban ini
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Memang tak mudah tapi ku tegar menjalani kosong nya hati
Buanglah mimpi kita yang pernah terjadi tersimpan tuk jadi history
Hitam Putih berlalu
Janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara kita lewati tuk dapatkan semua jawaban ini
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujung nya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Senin, 30 Mei 2016
Sabtu, 28 Mei 2016
Aku ingin menyerah
Aku cukup lelah berusaha mengikuti semua
maumu, aku lelah menuruti semua keinginanmu, aku lelah pura-pura baik-baik saja
didepanmu, aku hanya berusaha diam, mengingat semua yang akan terjadi jika aku
bicara, jika aku bertindak. Tapi aku lelah. Mencoba melawan hati, mencoba
membunuh pikiran,
Aku tak mengerti. Aku tidak lagi mengerti
kamu, aku tidak lagi mengenal kamu. Kamu ada, tapi terasa jauh, sangat jauh.
Apa yang ada dipikiranmu? Apa yang ada dihatimu? Siapa aku bagimu? Untuk
bertanya saja aku tak berani.
Ribuan kali aku berjanji pada diri sendiri
untuk menyerah, tapi aku selalu gagal. Setiap kali melihatmu aku lemah, entah
sihir apa yang kau punya. Tapi ketika aku tersadar, aku hanya bisa merindukanmu,
merindukan kita, meridukanmu dalam diam, memperhatikanmu dalam diam, diam-diam
aku marah, diam-diam aku terluka. Ya, aneh, heran, aku juga heran kenapa aku
masih mau bertahan. Lelah? Sakit hati? Kecewa? Tapi aku masih disini. Bodoh?
Tentu!
Sejak awal aku telah salah, terlalu
percaya padamu, terlalu setia padamu, terlalu sayang padamu. Jatuhnya, terlalu
sakit, terlalu kecewa dan terlalu takut kehilanganmu. Aku ingin menyerah. Bantu
aku! Tampar aku! Sadarkan aku!
Aku tak lagi berharap banyak pada hubungan
ini, tapi aku hanya ingin menikmati sedikit waktu yang masih kita punya, itu
saja. Lagi-lagi untuk mengatakannya aku tak berani, aku takut. Entah mulai
kapan aku jadi seorang penakut, sangat takut.
Kamis, 26 Mei 2016
Rapuh
Entah, rasanya aku tak
pernah serapuh ini. Lupa bagaimana caranya bahagia. Lupa bagaimana caranya
bersyukur. Aku yang ceria? Aku yang bawel? Aku yang cerewet? Aku yang berani? Aku
yang kuat? Rasanya semua sudah hilang, entah kemana semua itu. Aku juga sangat
merindukannya. Tujuan hidup sudah hilang. Semangat menjalani keseharianku telah
musnah. Mungkin Tuhan sedang menghukumku, Melaluimu.
Ratusan hari aku duduk disampingmu,
dan menikmati semua hal bersamamu. Lagi-lagi tanpa kamu tahu, bahumu adalah
tempat ternyamanku yang selalu jadi tempat kepalaku selalu ingin terjatuh tak
sengaja. Semula, semanya berjalan lebih dari baik-baik saja. Senyumanmu dari
hati senyumku lebih gembira lagi. Namun, bahagia yang terlalu berlebihan punya
harganya sendiri. Mungkin dengan kepergianmu baru bisa aku lunasi.
Kamu dekat tapi terasa jauh dari
yang terlihat. Kamu ada tapi terasa tiada dari kenyataan. Aku pernah berkhayal
bahwa bahagia didekatmu seperti ini akan selamanya. Ternyata aku salah. Aku tak
selalu mengerti alam, dengan segala permainannya. Tapi aku lebih tak mengerti
kamu, dengan segala perasaanmu dan juga dengan perhatianmu yang hanya
sementara. Hingga akhinya aku semakin tak mengerti tentang kebersamaan ini yang
tak lagi tercapai.
Terkadang
melihatmu bahagia dari jauh, kutemukan setitik bahagiaku. Ya, bahagia yang
kucari, bukan bahagia yang datang untukku. Semu, memang. Bahagia seperti ini
seperti terlalu dipaksakan, tapi aku tak punya pilihan lagi. Karna aku tahu
kebahagiaan seperti ini tak akan pernah datang lagi darimu. Padahal kalo boleh
jujur, aku ingin bahagiamu dibagi denganku. Ah maafkan aku yang terlalu pandai
berimajinasi.
Beri aku tamparan, supaya aku tahu
bahwa aku dan kamu sudah tak ada lagi harapan. Ingin rasanya aku melerai
pikiran dan ketidakmungkinan yang mengada-ada dalam kepala. Ingin rasanya lari
sejauh mungkin, menghindar dari dari kenyataan dan terjun sedalam-dalamnya dan
sebebas-bebasnya dalam lautan airmata. Apa ini yang harus terjadi padaku? Apa
ini yang kamu mau? Apa ini hukuman darimu? Sampai kapan? Terlalu banyak
pertanyaan dikepala yang ingin ku ucapkan, tapi apa daya nyali begitu ciut jika
mengingat semua kemungkinan yang akan terjadi setelahnya.
Maafkan aku yang belum
pandai untuk menerima kenyataan ini dan juga untuk melupakanmu. RP.
Langganan:
Komentar (Atom)