Senin, 30 Mei 2016

Tetap dalam Jiwa

Tak pernah terbayang akan jadi seperti ini pada akhirnya
Semua waktu yang pernah kita lewati bersama nyata hilang dan sirna

Hitam Putih berlalu
Janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara kita
lewati tuk dapatkan semua jawaban ini

Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa

tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa

Memang tak mudah tapi ku tegar menjalani kosong nya hati
Buanglah mimpi kita yang pernah terjadi tersimpan tuk jadi history

Hitam Putih berlalu
Janji kita menunggu
Tapi kita tak mampu
Seribu satu cara kita lewati tuk dapatkan semua jawaban ini

Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa

Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujung nya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa

Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda

Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa

Tak bisa tuk teruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa

Sabtu, 28 Mei 2016

Aku ingin menyerah

Aku cukup lelah berusaha mengikuti semua maumu, aku lelah menuruti semua keinginanmu, aku lelah pura-pura baik-baik saja didepanmu, aku hanya berusaha diam, mengingat semua yang akan terjadi jika aku bicara, jika aku bertindak. Tapi aku lelah. Mencoba melawan hati, mencoba membunuh pikiran,

Aku tak mengerti. Aku tidak lagi mengerti kamu, aku tidak lagi mengenal kamu. Kamu ada, tapi terasa jauh, sangat jauh. Apa yang ada dipikiranmu? Apa yang ada dihatimu? Siapa aku bagimu? Untuk bertanya saja aku tak berani.

Ribuan kali aku berjanji pada diri sendiri untuk menyerah, tapi aku selalu gagal. Setiap kali melihatmu aku lemah, entah sihir apa yang kau punya. Tapi ketika aku tersadar, aku hanya bisa merindukanmu, merindukan kita, meridukanmu dalam diam, memperhatikanmu dalam diam, diam-diam aku marah, diam-diam aku terluka. Ya, aneh, heran, aku juga heran kenapa aku masih mau bertahan. Lelah? Sakit hati? Kecewa? Tapi aku masih disini. Bodoh? Tentu!

Sejak awal aku telah salah, terlalu percaya padamu, terlalu setia padamu, terlalu sayang padamu. Jatuhnya, terlalu sakit, terlalu kecewa dan terlalu takut kehilanganmu. Aku ingin menyerah. Bantu aku! Tampar aku! Sadarkan aku!

Aku tak lagi berharap banyak pada hubungan ini, tapi aku hanya ingin menikmati sedikit waktu yang masih kita punya, itu saja. Lagi-lagi untuk mengatakannya aku tak berani, aku takut. Entah mulai kapan aku jadi seorang penakut, sangat takut.


RP

Kamis, 26 Mei 2016

Rapuh

Entah, rasanya aku tak pernah serapuh ini. Lupa bagaimana caranya bahagia. Lupa bagaimana caranya bersyukur. Aku yang ceria? Aku yang bawel? Aku yang cerewet? Aku yang berani? Aku yang kuat? Rasanya semua sudah hilang, entah kemana semua itu. Aku juga sangat merindukannya. Tujuan hidup sudah hilang. Semangat menjalani keseharianku telah musnah. Mungkin Tuhan sedang menghukumku, Melaluimu.

Ratusan hari aku duduk disampingmu, dan menikmati semua hal bersamamu. Lagi-lagi tanpa kamu tahu, bahumu adalah tempat ternyamanku yang selalu jadi tempat kepalaku selalu ingin terjatuh tak sengaja. Semula, semanya berjalan lebih dari baik-baik saja. Senyumanmu dari hati senyumku lebih gembira lagi. Namun, bahagia yang terlalu berlebihan punya harganya sendiri. Mungkin dengan kepergianmu baru bisa aku lunasi.

Kamu dekat tapi terasa jauh dari yang terlihat. Kamu ada tapi terasa tiada dari kenyataan. Aku pernah berkhayal bahwa bahagia didekatmu seperti ini akan selamanya. Ternyata aku salah. Aku tak selalu mengerti alam, dengan segala permainannya. Tapi aku lebih tak mengerti kamu, dengan segala perasaanmu dan juga dengan perhatianmu yang hanya sementara. Hingga akhinya aku semakin tak mengerti tentang kebersamaan ini yang tak lagi tercapai.

Terkadang melihatmu bahagia dari jauh, kutemukan setitik bahagiaku. Ya, bahagia yang kucari, bukan bahagia yang datang untukku. Semu, memang. Bahagia seperti ini seperti terlalu dipaksakan, tapi aku tak punya pilihan lagi. Karna aku tahu kebahagiaan seperti ini tak akan pernah datang lagi darimu. Padahal kalo boleh jujur, aku ingin bahagiamu dibagi denganku. Ah maafkan aku yang terlalu pandai berimajinasi.

Beri aku tamparan, supaya aku tahu bahwa aku dan kamu sudah tak ada lagi harapan. Ingin rasanya aku melerai pikiran dan ketidakmungkinan yang mengada-ada dalam kepala. Ingin rasanya lari sejauh mungkin, menghindar dari dari kenyataan dan terjun sedalam-dalamnya dan sebebas-bebasnya dalam lautan airmata. Apa ini yang harus terjadi padaku? Apa ini yang kamu mau? Apa ini hukuman darimu? Sampai kapan? Terlalu banyak pertanyaan dikepala yang ingin ku ucapkan, tapi apa daya nyali begitu ciut jika mengingat semua kemungkinan yang akan terjadi setelahnya.

Maafkan aku yang belum pandai untuk menerima kenyataan ini dan juga untuk melupakanmu. RP.