Kamis, 26 Mei 2016

Rapuh

Entah, rasanya aku tak pernah serapuh ini. Lupa bagaimana caranya bahagia. Lupa bagaimana caranya bersyukur. Aku yang ceria? Aku yang bawel? Aku yang cerewet? Aku yang berani? Aku yang kuat? Rasanya semua sudah hilang, entah kemana semua itu. Aku juga sangat merindukannya. Tujuan hidup sudah hilang. Semangat menjalani keseharianku telah musnah. Mungkin Tuhan sedang menghukumku, Melaluimu.

Ratusan hari aku duduk disampingmu, dan menikmati semua hal bersamamu. Lagi-lagi tanpa kamu tahu, bahumu adalah tempat ternyamanku yang selalu jadi tempat kepalaku selalu ingin terjatuh tak sengaja. Semula, semanya berjalan lebih dari baik-baik saja. Senyumanmu dari hati senyumku lebih gembira lagi. Namun, bahagia yang terlalu berlebihan punya harganya sendiri. Mungkin dengan kepergianmu baru bisa aku lunasi.

Kamu dekat tapi terasa jauh dari yang terlihat. Kamu ada tapi terasa tiada dari kenyataan. Aku pernah berkhayal bahwa bahagia didekatmu seperti ini akan selamanya. Ternyata aku salah. Aku tak selalu mengerti alam, dengan segala permainannya. Tapi aku lebih tak mengerti kamu, dengan segala perasaanmu dan juga dengan perhatianmu yang hanya sementara. Hingga akhinya aku semakin tak mengerti tentang kebersamaan ini yang tak lagi tercapai.

Terkadang melihatmu bahagia dari jauh, kutemukan setitik bahagiaku. Ya, bahagia yang kucari, bukan bahagia yang datang untukku. Semu, memang. Bahagia seperti ini seperti terlalu dipaksakan, tapi aku tak punya pilihan lagi. Karna aku tahu kebahagiaan seperti ini tak akan pernah datang lagi darimu. Padahal kalo boleh jujur, aku ingin bahagiamu dibagi denganku. Ah maafkan aku yang terlalu pandai berimajinasi.

Beri aku tamparan, supaya aku tahu bahwa aku dan kamu sudah tak ada lagi harapan. Ingin rasanya aku melerai pikiran dan ketidakmungkinan yang mengada-ada dalam kepala. Ingin rasanya lari sejauh mungkin, menghindar dari dari kenyataan dan terjun sedalam-dalamnya dan sebebas-bebasnya dalam lautan airmata. Apa ini yang harus terjadi padaku? Apa ini yang kamu mau? Apa ini hukuman darimu? Sampai kapan? Terlalu banyak pertanyaan dikepala yang ingin ku ucapkan, tapi apa daya nyali begitu ciut jika mengingat semua kemungkinan yang akan terjadi setelahnya.

Maafkan aku yang belum pandai untuk menerima kenyataan ini dan juga untuk melupakanmu. RP.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar