Entah, rasanya aku tak
pernah serapuh ini. Lupa bagaimana caranya bahagia. Lupa bagaimana caranya
bersyukur. Aku yang ceria? Aku yang bawel? Aku yang cerewet? Aku yang berani? Aku
yang kuat? Rasanya semua sudah hilang, entah kemana semua itu. Aku juga sangat
merindukannya. Tujuan hidup sudah hilang. Semangat menjalani keseharianku telah
musnah. Mungkin Tuhan sedang menghukumku, Melaluimu.
Ratusan hari aku duduk disampingmu,
dan menikmati semua hal bersamamu. Lagi-lagi tanpa kamu tahu, bahumu adalah
tempat ternyamanku yang selalu jadi tempat kepalaku selalu ingin terjatuh tak
sengaja. Semula, semanya berjalan lebih dari baik-baik saja. Senyumanmu dari
hati senyumku lebih gembira lagi. Namun, bahagia yang terlalu berlebihan punya
harganya sendiri. Mungkin dengan kepergianmu baru bisa aku lunasi.
Kamu dekat tapi terasa jauh dari
yang terlihat. Kamu ada tapi terasa tiada dari kenyataan. Aku pernah berkhayal
bahwa bahagia didekatmu seperti ini akan selamanya. Ternyata aku salah. Aku tak
selalu mengerti alam, dengan segala permainannya. Tapi aku lebih tak mengerti
kamu, dengan segala perasaanmu dan juga dengan perhatianmu yang hanya
sementara. Hingga akhinya aku semakin tak mengerti tentang kebersamaan ini yang
tak lagi tercapai.
Terkadang
melihatmu bahagia dari jauh, kutemukan setitik bahagiaku. Ya, bahagia yang
kucari, bukan bahagia yang datang untukku. Semu, memang. Bahagia seperti ini
seperti terlalu dipaksakan, tapi aku tak punya pilihan lagi. Karna aku tahu
kebahagiaan seperti ini tak akan pernah datang lagi darimu. Padahal kalo boleh
jujur, aku ingin bahagiamu dibagi denganku. Ah maafkan aku yang terlalu pandai
berimajinasi.
Beri aku tamparan, supaya aku tahu
bahwa aku dan kamu sudah tak ada lagi harapan. Ingin rasanya aku melerai
pikiran dan ketidakmungkinan yang mengada-ada dalam kepala. Ingin rasanya lari
sejauh mungkin, menghindar dari dari kenyataan dan terjun sedalam-dalamnya dan
sebebas-bebasnya dalam lautan airmata. Apa ini yang harus terjadi padaku? Apa
ini yang kamu mau? Apa ini hukuman darimu? Sampai kapan? Terlalu banyak
pertanyaan dikepala yang ingin ku ucapkan, tapi apa daya nyali begitu ciut jika
mengingat semua kemungkinan yang akan terjadi setelahnya.
Maafkan aku yang belum
pandai untuk menerima kenyataan ini dan juga untuk melupakanmu. RP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar