Kamis, 14 November 2013

Maudy Ayunda - Tahu Diri

Hay selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sial ku lah kau ada disini

Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
tegak berdiri didepanmu kini
sakitnya menusuki jantung ini
melawan cinta yang ada dihati

Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
pabila kau muncul terus begini
tanpa pernah kita bisa bersama
pergilah menghilang sajalah lagi

Bye selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
lebih baik kau tiada disini

Sungguh tak mudah bagiku
menghentikan segala khayalan gila
jika kau ada dan ku Cuma bisa meradang
menjadi yang disisimu
membenci nasibku yang tak berubah

Berkali-kali kau berkata kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku telah berjanji menyerah


Maudy Ayunda - Perahu Kertas

Perahu kertas ku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya

Perahu kertas mengingatkanku
Betapa ajaib hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri

Hidupkan lagi mimpi-mimpi
(cinta-cinta) cita-cita (cinta-cinta)
Yang lama kupendam sendiri
Berdua ku bisa percaya

Ku bahagia kau telah terlahir didunia
Dan kau ada diantara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku
Menemukanmu

Tiada lagi yang mampu berdiri
Halangi rasaku cintaku padamu



Sudah Lama dan "Mungkin" ga Penting


Aku tak menyangka kalo bakal sesedih ini, aku berusaha menghindari airmata sekuat yang aku bisa di depan orang-orang. Tapi nyatanya aku tak bisa, sampai-sampai predikat sebagai “cewek cengeng” sudah menjadi cap dijidatku dari beberapa orang. Banyak orang yang tahu, mungkin juga dia, aku adalah cewek yang paling tidak bisa menahan kesedihan. Dia adalah pendengar ceritaku. Aku selalu bercerita padanya tentang semuanya. Seberapa dalamnya perasaanku, seberapa kuat rasa ini semakin menerkamku, dan seberapa hebat senyumnya bisa membuatku bahagia.

Dari semua sikapku, tak mungkin dia tak tahu aku punya perasaan lebih pada orang itu. Dari semua ceritaku, tak mungkin dia tak paham kalo aku mulai jatuh cinta pada orang itu, walau memang aku salah bahwa saat itu aku telah dimiliki yang lain, tapi apa tumbuhnya cinta itu salah? Aku hanya bisa diam dan memendam, mungkin disitulah letak kesalahan terbesarku. Terlalu egois untuk mengatakan dan terlalu takut untuk mengungkapkan. Aku tak bisa menyalahkan siapapun. Bukankah dalam cinta tak pernah ada yang salah, menyalahkan ataupun disalahkan?

Selama ini aku tak pernah memikirkan perpisahan kita, tapi ternyata hal yang sama sekali tak ingin kupikirkan pada akhirnya terpaksa masuk pikiranku. Sapaan yang tak lagi sehangat dulu, senyum yang tak lagi semanis dulu, dan tawa kita yang tak lagi serenyah dulu. Aku tak tahu perubahan macam apa yang membuat kita seperti ini.

Mengetahui kenyataan yang begitu pahit seperti ini, aku jadi malas tersenyum, dan bicara banyak tentang perasaanku pada orang lain. Aku malah semakin belajar untuk menutup rapat-rapat mulutku pada setiap perasaan yang minta diledakkan lewat curhat-curhat kecil.

Orang itu yang selalu menjadi topik ceritaku padanya kini telah bersamanya. Hal itu selalu menjadi gumpalan bayangan diotakku. Semakin aku berusaha melawan, semakin aku tak bisa menerima bahwa segalanya tak lagi seperti dulu. Aku tak ingin ingatanku dan perasaanku yang dulu begitu besar pada masa lalu menjadi penyiksaku. Aku hanya berusaha mengerti yang terjadi dan berusaha pasrah dengan kenyataan yang memang harus kuketahui. Aku tak ingin dibohongi oleh kesemuan yang membahagiakan, lebih baik kenyataan yang memuakkan tapi penuh kejelasan.

Berbahagialah kamu dengan orang itu, orang yang selalu kubawa dalam cerita-ceritaku. Orang yang bagiku terlalu tinggi untuk kugapai, terlalu misterius untuk ku mengerti jalan pikirannya, dan kamu begitu mudah mendapatkannya. J Setiap melihatmu dengan dia, aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa aku juga harus ikut berbahagia melihatmu dengannya. Pasti. Aku pasti juga bahagia. Cinta adalah ikhlas melihat orang yang kucintai bahagia meskipun ia tak pernah menjadikanku pilihan satu-satunya. Harus. J

Aku tak sempat membuat orang itu tersenyum. Inilah permintaanku yang terakhir, aku janji, setelah ini aku tak akan mengganggumu, bahagiakan dia, buatlah dia terus tersenyum, agar aku masih bisa melihat senyumannya. Dan biarkan saja dia tak tahu ada seseorang yang terluka diam-diam disini.

Aku mohon, jagalah dia dengan susah payahmu, dengan sekuat tenagamu. Aku ingin kebahagiaannya terjamin olehmu. Disini, aku tak bisa berbuat banyak, selain membantu dalam doa. Dan kamu, tetap SAHABATKU. J

Dan aku percaya, jika tiba saatnya nanti, bukan aku yang akan menemukan kebahagiaanku sendiri, tapi kebahagiaan yang akan menemui aku J

Dulu Banget :D

Hmm sebenarnya ini kisah lama, tapi baru sempet coret-coret.. :D
Dulu, pas pertama lihat dia, aku cuma kagum yang tak begitu kupedulikan. Tapi nyatanya aku salah. Perasaan ini berkembang yang aku sendiri juga gatau namanya. Mungkin sayang, atau cinta. Entahlah, yang pasti sulit banget untuk ku hindari. Aku mulai menyayanginya tanpa sepengetahuannya. Yah, semua berjalan seperti biasa, dikelas, organisasi, kepanitiaan dan juga yang lainnya. Aku semakin menikmati kedekatan kita yang entah harus diberi nama apa.

Aku tak pernah takut untuk mencintainya. Dan aku membiarkan rasa ini terus mengalir tanpa kendali. Percakapan setiap malam yang dia selipkan lewat sms mampu membawaku ke perasaan yang dulu sangat ingin ku hindari, iya, cinta. Aku sendiri juga gatau mengapa aku bisa begitu menggilainya. Benar-benar seperti orang gila saat melihatnya -_-

Cinta ini sangat tulus. Menurutku. Ga ada penuntutan yang kulakukan, aku juga ga minta status dan kejelasan. Aku ga akan seberani itu. Melihatnya aja hanya bisa diam-diam, didekatnya aja pasti salah tingkah. :D

Dia mengenalku, ga mungkin kalau dia ga menyadari ada perasaan yang lebih untuknya. Aku tak pernah bisa menebak matanya, terlalu misterius, saat dia bercerita tentang dunianya, saat dia membawaku ke dalam dunianya yang mulai kupahami. Aku berusaha memahami kemisteriusannya.

Aku merasa sudah mulai memahaminya. Aku merasa punya kesempatan untuk sedikit mencicipi hidup menyenangkan bersamanya. Aku merasa sanggup mengisi hari-harinya dengan kebahagiaan baru. Tapi, ternyata aku salah, iya, salah besar, banget. Perhatian yang aku berikan khusus untuknya seakan menguap begitu saja. Rasa yang kuperjuangkan dengan sangat, seolah-olah ga pernah hinggap sedikitpun dalam benaknya. Bodoh, iya, banget.

Sepertinya ga mungkin dia ga tahu bahwa aku mencintainya. Ga mungkin dia ga paham perhatian dan tindakanku. Ga mungkin hatinya begitu buta untuk mengartikan semuanya yang kurasakan padanya adalah (mungkin) cinta. Kukira percakapan kita adalah hal yang spesial baginya, ternyata cuma aku yang mengganggapnya spesial. J


Aku tak bisa menahannya pergi. Bahkan, saat dia memilih habiskan kebahagiaannya bersama yang lain, dan kemudian membiarkan aku sendirian. Tanpa mengucapkan kata pisah dan tanpa dia tahu sudah ada yang tumbuh diam-diam dihatiku, cinta. Ternyata aku belum benar-benar memahaminya. Ternyata aku belum benar-benar mengenalnya.

Ragu

Aku ga pernah merasa tersakiti sama kamu, tapi keraguanku untuk masa depan hubungan kita. Gatau gimana cara mengungkapkannya, yang pasti rasa ini ga bisa dijabarkan dengan kata-kata. Mengetahui kalo kamu masih menyimpan rasa itu buat aku, iya, seneng banget. Perhatian-perhatian kecilmu yang masih dengan rutin kamu berikan selalu bisa membuatku tersenyum. Tapi memang tak bisa ku pungkiri kalo aku memang masih ragu untuk merajut kembali hubungan kita. Dan sengaja aku berlabh ke yang lain, mungkin sekedar untuk menjauhimu dan mungkin juga melupakanmu. Jahat banget ya, iya, banget.

Awalnya sih biasa aja, sampai akhirnya aku berfikir mungkin akan terbiasa dengan dia nantinya. Tapi nyatanya, malah terlihat memaksa. Ragaku memang sama dia tapi hati dan fikiran masih ada di kamu. Bertengkar dengan perasaan seperti ini memang menyakitkan, banget. Aku berusaha bertahan dengan semua ini, tapi disisi lain ternyata rasa itu masih ada buat kamu.

Banyak pertanyaan yang muncul dikepala kalo harus melanjutkan hubungan kita. Bukan hanya karena keraguanku saja, tapi juga terganjal restu yang tak mungkin aku lawan.
Yakinkan aku bahwa cinta memang tak mungkin disatukan lagi, karena dengan begitu aku akan mudah melepasmu. Yakinkan aku, bahwa kamu bahagia tanpa aku, agar aku pun dapat menciptakan bahagia dengan dia. Maafkan aku.