Kamis, 14 November 2013

Sudah Lama dan "Mungkin" ga Penting


Aku tak menyangka kalo bakal sesedih ini, aku berusaha menghindari airmata sekuat yang aku bisa di depan orang-orang. Tapi nyatanya aku tak bisa, sampai-sampai predikat sebagai “cewek cengeng” sudah menjadi cap dijidatku dari beberapa orang. Banyak orang yang tahu, mungkin juga dia, aku adalah cewek yang paling tidak bisa menahan kesedihan. Dia adalah pendengar ceritaku. Aku selalu bercerita padanya tentang semuanya. Seberapa dalamnya perasaanku, seberapa kuat rasa ini semakin menerkamku, dan seberapa hebat senyumnya bisa membuatku bahagia.

Dari semua sikapku, tak mungkin dia tak tahu aku punya perasaan lebih pada orang itu. Dari semua ceritaku, tak mungkin dia tak paham kalo aku mulai jatuh cinta pada orang itu, walau memang aku salah bahwa saat itu aku telah dimiliki yang lain, tapi apa tumbuhnya cinta itu salah? Aku hanya bisa diam dan memendam, mungkin disitulah letak kesalahan terbesarku. Terlalu egois untuk mengatakan dan terlalu takut untuk mengungkapkan. Aku tak bisa menyalahkan siapapun. Bukankah dalam cinta tak pernah ada yang salah, menyalahkan ataupun disalahkan?

Selama ini aku tak pernah memikirkan perpisahan kita, tapi ternyata hal yang sama sekali tak ingin kupikirkan pada akhirnya terpaksa masuk pikiranku. Sapaan yang tak lagi sehangat dulu, senyum yang tak lagi semanis dulu, dan tawa kita yang tak lagi serenyah dulu. Aku tak tahu perubahan macam apa yang membuat kita seperti ini.

Mengetahui kenyataan yang begitu pahit seperti ini, aku jadi malas tersenyum, dan bicara banyak tentang perasaanku pada orang lain. Aku malah semakin belajar untuk menutup rapat-rapat mulutku pada setiap perasaan yang minta diledakkan lewat curhat-curhat kecil.

Orang itu yang selalu menjadi topik ceritaku padanya kini telah bersamanya. Hal itu selalu menjadi gumpalan bayangan diotakku. Semakin aku berusaha melawan, semakin aku tak bisa menerima bahwa segalanya tak lagi seperti dulu. Aku tak ingin ingatanku dan perasaanku yang dulu begitu besar pada masa lalu menjadi penyiksaku. Aku hanya berusaha mengerti yang terjadi dan berusaha pasrah dengan kenyataan yang memang harus kuketahui. Aku tak ingin dibohongi oleh kesemuan yang membahagiakan, lebih baik kenyataan yang memuakkan tapi penuh kejelasan.

Berbahagialah kamu dengan orang itu, orang yang selalu kubawa dalam cerita-ceritaku. Orang yang bagiku terlalu tinggi untuk kugapai, terlalu misterius untuk ku mengerti jalan pikirannya, dan kamu begitu mudah mendapatkannya. J Setiap melihatmu dengan dia, aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa aku juga harus ikut berbahagia melihatmu dengannya. Pasti. Aku pasti juga bahagia. Cinta adalah ikhlas melihat orang yang kucintai bahagia meskipun ia tak pernah menjadikanku pilihan satu-satunya. Harus. J

Aku tak sempat membuat orang itu tersenyum. Inilah permintaanku yang terakhir, aku janji, setelah ini aku tak akan mengganggumu, bahagiakan dia, buatlah dia terus tersenyum, agar aku masih bisa melihat senyumannya. Dan biarkan saja dia tak tahu ada seseorang yang terluka diam-diam disini.

Aku mohon, jagalah dia dengan susah payahmu, dengan sekuat tenagamu. Aku ingin kebahagiaannya terjamin olehmu. Disini, aku tak bisa berbuat banyak, selain membantu dalam doa. Dan kamu, tetap SAHABATKU. J

Dan aku percaya, jika tiba saatnya nanti, bukan aku yang akan menemukan kebahagiaanku sendiri, tapi kebahagiaan yang akan menemui aku J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar